Faktor- Faktor yang mempengaruhi Peningkatan Motivasi Belajar Anak
![]()
Keberadaan gadget (Hp) sangat mempengaruhi aktivitas siswa, khususnya dalam hal belajar. Hampir seluruh siswa di Indonesia menghabiskan waktu belajarnya untuk menggunakan gadget. Penyebaran informasi yang luas, berbagai aplikasi game yang setiap harinya bervariasi atau mengalami perubahan yang pesat membuat anak-anak atau siswa lebih memilih menghabiskan waktunya untuk menggunakan ataupun bermain game. Maka dari itu perlunya aturan bahwa setiap siswa tidak diperkenankan membawa dan menggunakan gadget (Hp) ketika berada di sekolah dan jam sekolah, sehingga dengan aturan ini siswa tidak terganggu konsentrasi belajarnya. Namun di luar jam pembelajaran atau saat di rumah perlunya pengawasan orang tua dalam hal penggunaan gadget (Hp) anak.
Penggunaan gadget (Hp) untuk bermain game khususnya akan berdampak sangat merugikan bagi mereka yang menggunakannya. Dampak negatif bermain game meliputi dampak negatif yang bersifat sosial, psikis, dan fisik dari kecanduan bermain game (Margaretha, 2008: 204). Cara untuk menghindari dampak negatif tersebut, maka perlunya penanaman motivasi belajar kepada siswa. Setiap aktivitas belajar siswa harus didorong oleh motivasi belajar yang memadai, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
Motivasi Belajar adalah dorongan iternal dan eksternal siswa-siswa yang sedang belajar untuk terjadinya perubahan tingkah laku pada umumnya, yang didukung oleh beberapa indikator atau unsur tertentu (Hamzah, 2008:23). Dengan demikian, motivasi belajar dapat muncul dengan dorongan pada diri individu itu sendiri, dan dorongan oleh pihak luar. Tanpa adanya dorongan dari dalam diri individu maka tidak akan adanya motivasi atau tindakan belajar pada diri seseorang.
Motivasi mempunyai peran yang sangat penting dalam belajar. Tanpa motivasi maka perbuatan atau aktivitas belajar tidak akan terjadi. Dengan motivasi siswa menjadi tekun dan bergairah dalam belajarnya, sebab ada tujuan dan sasaran yang hendak dicapai. Oleh karena itu, motivasi tidak hanya berfungsi sebagai penentu terjadinya suatu aktivitas, tetapi juga menentukan hasil aktivitas itu. Menurut Abdurrahman Abror, bahwa: “Terdapat 4 fungsi motivasi dalam proses pembelajaran, yaitu:
- Fungsi membangkitkan (Arousal Function);
- Fungsi harapan (expectancy function);
- Fungsi intensif (intensive function);
- Fungsi disiplin (disciplianari fungction)”
Berdasarkan empat fungsi di atas, maka motivasi berfungsi menjadi pembangkit anak untuk memiliki keinginan belajar dan mencapai yang diinginkannya, Motivasi belajar siswa sewaktu-waktu bisa tinggi dan bisa juga rendah. Rendahnya motivasi belajar akan memberikan dampak yang buruk kepada siswa khususnya dalam hal prestasi. Siswa yang kurang motivasi belajarnya, maka akan cenderung malas, tidak memperhatikan guru dalam menyampaikan pembelajaran, sering bolos, dan menurutnya aktivitas belajar merupahan hal yang membosankan. Hal ini merupakan ciri siswa yang kurang akan adanya motivasi yang ada di dalam dirinya dan motivasi yang diberikan oleh pihak eksternal, misalnya pihak sekolah dan orangtua siswa itu sendiri, karena untuk menciptakan siswa yang pintar, semangat dan disiplin tidak hanya dibentuk oleh pihak sekolah saja, tetapi harus ada dukungan atau dorongan yang dilakukan oleh orangtua siswa.
Pembentukan karakter anak atau sikap anak sebagian besar adalah pembentukan dari orangtua yang menjadi madrasah pertama bagi anaknya, maka dari itu peluang besar atau dorongan terbesar dalam hal memotivasi yaitu orangtua, diri sendiri, dan guru. Oleh karena itu, orangtua dan guru harus memahami bahwa Aktifitas belajar serta hasil belajar seseorang, sangat dipengaruhi oleh faktro-faktor tertentu. Faktor yang mempengaruhi aktifitas dan hasil belajar menurut Ngalim Purwanto (1992:255-257), menyebutkan bahwa faktor yang mempengaruhi Aktifitas dan Hasil Belajar adalah:
- Faktor diri sendiri:
- Tidak memiliki cita-cita yang jelas;
- Tidak percaya diri;
- Faktor Lingkungan;
- Faktor Keluarga;
- Harapan orangtua yang terlalu tinggi atau rendah;
- Harapan orangtua yang terlalu rendah membuat harapan untuk anaknya
Tiga fakor utama yang menjadi penyebab kurangnya motivasi belajar siswa, yakni faktor pertama adalah faktor yang bersumber dari diri anak sendiri, yakni karena tidak memiliki cita-cita yang jelas dan tidak percaya diri. Faktor kedua adalah faktor lingkungan, dan faktor ketiga adalah faktor keluarga. Berdasarkan tiga faktor di atas dapat disimpulkan bahwa pembentukan karakter anak yang memiliki semangat yang tinggi untuk belajar tidak hanya dibebankan sepenuhnya kepada sekolah, tapi faktor keluarga dan lingkungan merupakan peran besar dalam meningkatkan motivasi anak agar rajin belajar.
Orangtua harus mampu menjadi teman untuk anaknya, agar anak menjadi lebih nyaman dan leluasa dalam menyampaikan isi hatinya. Tidak hanya menuntut anak agar menjadi yang diinginkan orangtua, tetapi orangtua juga harus memperhatikan keinginan anaknya karena pada dasarnya tuntutan atau harapan yang tinggi tanpa dibarengi dengan tindakan orangtua yang lembut akan memunculkan luka pada diri anak itu sendiri.
Penulis Artikel : Dwi Pundhiarti, S.Pd
Sebagai : Guru Bahasa Indonesia



